Hari-hari berlalu begitu cepat sehingga tak terasa akhirnya aku sudah berada di ujung dunia SMA, dunia di mana aku mengenal keakraban teman, dunia di mana aku mengenal betapa indahnya persahabatan.
Akan tetapi, hari-hari indah tersebut harus segera aku tinggalkan. Perlahan tetapi pasti, lambat tetapi mengejutkan, waktu melintas di kehidupan remajaku seperti pencuri yang diam-diam mengambil semua kesempatanku untuk menikmati indahnya sekolah. Aku sedih, tapi apa daya. Aku lemah, aku kecil, aku tak bisa mengubahnya. Berat rasanya untuk meninggalkan semua ini.
Ditambah lagi dengan masa depan yang tak bisa diprediksi. Dunia itu kejam, ya dunia itu sangat kejam. Tiada lagi yang namanya sahabat, tiada lagi yang namanya saudara. Aku seperti seorang perantau, yang tinggal di desa para perampok. Sedikit saja aku lengah, habislah sudah.
Berbagai pihak di sekelilingku mengharapkan aku untuk bisa menjadi yang terbaik. Berbagai pihak menganggapku manusia hebat. Berbagai pihak sangat kagum akan kelebihan-kelebihanku. Namun aku yakin, sekurang-kurangnya ada satu orang yang menganggap diriku tidak mampu memenuhi semua pandangan orang akan diriku ini.
Aku begitu bingung. Akan ke manakah aku dibawa Tuhan? Apakah orang-orang akan menyokong aku? Atau akankah aku akan mengecewakan mereka? Semakin aku memikirkan masa depanku, semakin aku gelisah. Meskipun aku tahu siapa yang memegang masa depanku dan siapa yang bisa kuandalkan, tapi aku masih takut.
Oh Tuhan, apa yang harus hambaMu ini lakukan? Apa yang harus kupilih? Apakah yang menantiku di depan sana? Ampunilah aku yang lemah iman. Ajarku untuk selalu berharap dan bergantung hanya kepadaMu, Allah yang setia. Allah yang berkuasa atas langit dan bumi. Allah yang tidak pernah membiarkan anakNya sendirian. Allah yang memeliharaku.
Akan tetapi, hari-hari indah tersebut harus segera aku tinggalkan. Perlahan tetapi pasti, lambat tetapi mengejutkan, waktu melintas di kehidupan remajaku seperti pencuri yang diam-diam mengambil semua kesempatanku untuk menikmati indahnya sekolah. Aku sedih, tapi apa daya. Aku lemah, aku kecil, aku tak bisa mengubahnya. Berat rasanya untuk meninggalkan semua ini.
Ditambah lagi dengan masa depan yang tak bisa diprediksi. Dunia itu kejam, ya dunia itu sangat kejam. Tiada lagi yang namanya sahabat, tiada lagi yang namanya saudara. Aku seperti seorang perantau, yang tinggal di desa para perampok. Sedikit saja aku lengah, habislah sudah.
Berbagai pihak di sekelilingku mengharapkan aku untuk bisa menjadi yang terbaik. Berbagai pihak menganggapku manusia hebat. Berbagai pihak sangat kagum akan kelebihan-kelebihanku. Namun aku yakin, sekurang-kurangnya ada satu orang yang menganggap diriku tidak mampu memenuhi semua pandangan orang akan diriku ini.
Aku begitu bingung. Akan ke manakah aku dibawa Tuhan? Apakah orang-orang akan menyokong aku? Atau akankah aku akan mengecewakan mereka? Semakin aku memikirkan masa depanku, semakin aku gelisah. Meskipun aku tahu siapa yang memegang masa depanku dan siapa yang bisa kuandalkan, tapi aku masih takut.
Oh Tuhan, apa yang harus hambaMu ini lakukan? Apa yang harus kupilih? Apakah yang menantiku di depan sana? Ampunilah aku yang lemah iman. Ajarku untuk selalu berharap dan bergantung hanya kepadaMu, Allah yang setia. Allah yang berkuasa atas langit dan bumi. Allah yang tidak pernah membiarkan anakNya sendirian. Allah yang memeliharaku.